Hakikat perempuan, menurutku
Bismillah
Aku sebagai perempuan, lebih
banyak mengangguk atau menggeleng. Memberi keputusan namun tidak bisa memilih.
Aku dengan kehidupanku. Tentu banyak
tipe-tipe laki-laki yang aku temui. A, B, C, D hingga Z. Jika mau memilih dan
mengeksekusi, bisa saja aku menentukan,”mau dengan ini atau itu.” Tapi kembali
lagi, sosok laki-laki bukan barang yang memiliki garansi yang bisa ditukar
ketika sudah tidak berfungsi menurut kita. Laki-laki tersebut nantinya akan
menjadi imam. Teman seumur hidup yang harus kita patuhi menuju kebahagiaan
dunia akhirat.
Kita bisa saja berdalih dengan
siapa kita akan bermakmum. Tapi tidak semudah itu, ferguso! Kita sangat perlu
berkaca. Apa kita sudah seperti yang kita idamkan? Apa kita sudah mengusahakan
menjadi yang terbaik untuk bisa mendapatkan yang terbaik?
Then, yang menemukan kita adalah
mereka. Kita bisa apa?
Kita bisa mengiyakan atau tidak
pertanyaan orang yang datang kepada kita. Meskipun sebenarnya kita sudah
menentukan dan merencanakan ingin hidup dengan yang bagaimana, dengan siapa.
Random sekali bicaraku ya…..
Jadi, sejauh ini, sejauh aku
mengalami peristiwa menjadi seorang perempuan…. Boleh saja kita menjadi diri
kita sendiri, tapi tetap mengusahakan yang terbaik. Lalu, mennurutku, jodoh
adalah bonus dari kebaikan yang kita lakukan. Kita akan memiliki teman hidup
yang seperti kita. Kalau biasanya kita melakukan fungsi x=n+1 untuk n=1 jika
masih menjomblo, maka sekarang kita bisa menjadi n=2 ketika menemukan jodoh. Tapi
fungsinya tetap x=n+1. Hanya saja, intensitasnya lebih tinggi untuk menangani
permasalahan hidup yang lebih banyak pula.
Jika aku merasa “banyak banget
sih cowo-cowo yang ada di hidupku”. Maka aku lebih menghibur diri dengan,”ohiya
ya, hakikatku kan memutuskan, bukan memilih”. Jadi, aku hanya bisa memberi
jawaban meskipun dan padahal aku sudah memiliki perencanaan dengan siapa aku
ingin menjalani masa depan. Seketika itu, aku mengorbankan perasaan. So, jika
yang datang telah pergi karena mereka memiliki pilihan lain, maka aku akan
kembali kepada rencana awal.
Bukan karena aku melihat peluang
dan aku tidak ingin bertahan, tapi aku melihat situasi juga jika seseorang yang
telah aku rencanakan telah memilih yang lain.
Terimakasih untuk perempuan yang
sepemikiran denganku….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar