Aku sangat lelah menjalani cuplikan
situasi dengan kesendirian, memendam cerita yang tidak bisa dibagi kecuali dengan
Allah, membagikan senyum untuk menahan gejolak hati. Mungkin aku sedang berada di titik sangat
membutuhkan seorang teman, hidup. Teman yang tak lagi perhitungan dengan apa
yang kita lakukan. Teman yang memang ada untuk aku dan aku ada untuknya. Teman yang
tak lagi memandang bagaimana dia harus berbuat untuk membalas sikapku. Teman hidup
bersama untuk semua cerita. Bukan aku sendiri yang menjalani ceritaku atau sebaliknya.
Tapi aku dan dia menjalani kisahku dan kisahnya tanpa sekat meskipun berbeda ranah.
Teman berbagi yang harusnya tidak ada lagi yang bisa ditutupi. Teman apa adanya
tanpa ada yang dipaksakan. Teman, sahabat, sosok penjaga, imam, dan pengantar
aku menuju Ridho dan surgaNya.
Apakah boleh aku mencarimu? Apakah
boleh aku menemukanmu dengan caraku? Ah, mungkin selama ini aku salah
memutuskan. Aku menganggap semua yang ada untukku berpeluang untuk menjadi
seseorang itu. Tapi harusnya aku sangat mengingat jika “Jodoh tak akan kemana”.
Aku tidak boleh memaksakan kondisi. Aku harus tau kapan aku bisa menerima
seseorang dan kapan harus membatasi diri. Aku harusnya tak sebodoh ini.
Biarlah apapun yang terjadi,
mulai sekarang, aku hanya boleh mendoakan saja. Tidak boleh mengeksekusi
keadaan. Aku dengan kesibukanku harusnya lebih bisa mendewasakan diri bahwa
jika berjodoh, maka akan dimudahkan jalannya.
Harusnya aku tidak boleh
membandingkan. Tapi bagaimana lagi, aku sangat senang dengan kebahagiaanmu. Kamu
yang sudah menjadi salah satu orang baik dalam hidupku dengan seseorang yang
menghargai kamu apa adanya, ada untuk keluargamu, dan hampir saja menjadi
bagian dari kehidupanmu. Terimakasih atas pelajaran bahwa teman hidup bukan
dicari atau ditemukan, tapi diperjuangkan dengan segala kemungkinan.
Aku harus lebih memperbaiki dan
memantaskan diri menjadi prbadi yang pantas untuk diperjuangkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar